Indigenous Voice: Memori Australia #1

Sudah lama saya ingin mengabadikan proyek Indigenous Voice yang sudah terlaksana satu tahun lalu itu dalam blog melinskiss ini. Beberapa bulan setelah balik ke Indonesia saya cek website-nya secara berkala, namun seringkali berubah-ubah, mungkin karena data yang harus ditampilkan belum lengkap atau belum sempurna. Atau belum ada staf khusus yang mengerjakan. Saya ingat hanya beberapa orang saja yang berkolaborasi dengan Ms.Heather Stewart saat itu untuk pengerjaan dokumentasi, publikasi, dan operasional proyek ini.

Indigenous Voice Project merupakan upaya pemerintah Australia untuk mencerahkan masa depan bangsanya melalui pendidikan, dalam hal ini University of Queensland sebagai pelaksananya. Ms.Stewart memimpin proyek ini sekaligus dibantu oleh staf-nya (saya ingat namanya, Stephen!!) yang adalah bagian dari School of Journalism and Communication. SJC ini adalah fakultas yang lumayan ternama dan diakui sebagai fakultas komunikasi yang lumayan tersohor di negara bagian Queensland. Yang mau belajar jurnalistik teori (katanya siiih) disarankan ke sini. Tapi kalau mau praktek dibanyakin dan ga melulu teori, kuliah lah di Griffith University, bersama professor saya yang sangat teramat BAIK LUAR BIASA, Prof.Michael Meadows. Haha, promosi niii..

Saya ikutan proyek ini juga karena rekomendasi Prof.Meadows. Saya anak Griffith siii.. tapi UQ buka proyeknya ini (yang berbentuk kuliah singkat) untuk murid2 mana aja yang direkomendasikan oleh dosennya. Walhasil ini malah jadi sumber nilai Communication Project saya, semacam tugas akhir penentu kelulusan studi. hahaaa..

Dan saya semangat banget ikutnya, walau kendala wawasan dan bahasa (sekelas sama orang Australia tok, bo! Padahal biasanya campur sama international students, fuiih), tapi pengalamannya malah tambah seru. Agak di-spesial-kan, begitulah :p Saya jadi sempat jalan ke Toowoomba, jauh dari Brisbane (sendiri!) untuk mewawancarai Uncle Wally McCarthy, seorang sesepuh suku Aborigine di sana. Bisa dibilang secara teknis mantap wawancaranya, tapi sayanya yang ga mantap. Si Uncle sangat amat cepat ngomongnya, dan campur-campur antara dialek Oz sama dialek sub-suku-nya😦 Waktu itu saya ditemani sama Ms.Amanda Gearing, mentor saya, sama anaknya (mmm.semoga nanti inget namanya).

Rangkaian wawancara dan peliputan saya (termasuk di Musgrave Park, pusat perayaan hari Aborigine di Queensland-NAIDOC Day) dilasanakan untuk memenuhi 5 cerita yang harus dipresentasikan pada para mentor di akhir proyek (which is 10 hari saja). Lalu beberapa dari antaranya harus diproduksi menjadi berita video/audio/artikel tertulis. Saya tentunya memilih video. Tapi karena terbentur waktu, akhirnya saya hanya menyerahkan transkrip wawancara, wawancara audio, audio package, dan video diary. Yang terakhir ini wajib hukumnya.

Wuaaah.. banyak banget deh cerita menakjubkan dan menyedihkan mengenai proyek ini. Harus mengedit di UQ sampai tengah malam lah, menginap dan sampai diusir-usir lah. jalan kaki sendirian malam dan pagi hari sambil menangis lah. Belum lagi sambil mengedit di Griffith Film School Southbank Campus yang waktunya lumayan bersamaan dengan program ini. Intinya saya jadi sering terlambat mengumpulkan tugas karena banyak hal yang saya kerjakan secara bersamaan.

Kalau diingat-ingat gini, saya bersyukur banget saya dikasi semangat sebegitu tingginya sama Tuhan.. Plus: Saya dikasi favours melalui orang-orang yang berada di sekeliling saya, khususnya Prof.Michael Meadows yang saya sebut tadi. Asli, kalau ada yang pernah kenal sama dia, pasti ceritanya sama, orang-nya SUPER BAIK!!! Owh, kecuali teman saya asal Korea sih, yang ga lulus di salah satu mata kuliah-nya Prof. MEadows, gara-gara ni cowok presentasi tentang Jepang sambil membumbu dengan kata-kata kotor. Padahal mata kuliahnya International Journalism. Ya kena lah dia. Kasian juga sih,, saya lumayan akrabn sama dia soalnya.

Anyway, alasan pertama saya menulis sepanjang ini adalah untuk presenting website-nya UQ’s Indigenous Voice Project yang ada saya-nya, hihiiii.. Bukannya narsis niii.. tapi kan bangga lah bisa involved di proyek itu, dan diabadikan dalam website pula🙂

Untuk mahasiswa-mahasiswa jurnalisme di Brisbane dan sekitarnya, khususnya yang di UQ, kayanya bakal bisa mengalami proyek yang lebih seru-seru lagi tahun depan, berhubung para pioneer-nya pasti lebih terampil dan cekatan menghadapi masalah-masalah yang mungkin muncul. Saya rekomendasikan sih proyek ini, asal jangan pulang kemaleman aja kalo abis ngedit atau meeting di kampus, bis udah ga ada bo. Kalo ada waktu saya ceritakan deh pengalaman saya itu, menyedihkan bangeeeeeeeeetsss!!

Ini dia website-nya (klik di gambar)

Ahhh. Such a fun-but-hectical-tiring memories of Australia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s