Pintar-pintar ya nak nonton TV..

Iya, karna kalo ga.. nanti kamu bapak hukum ga boleh nonton tv sekalian!

Hmm.. kalo saya jadi anaknya si bapak.. saya bingung, pinter-pinter.. aku bisa kok jaga diri nonton tv. wong ga bahaya. tinggal di-iya-in aja lah si bapak ngomong..

 

Nah loh, itu sih pikiran saya. Ga tau anak-anak jaman sekarang.. huhuuuu.. sedih ga sih ngeliat TV kita makin lama makin ngajarin hal yang ga bener..dalam hal konsep hidup, gaya hidup, cara bicara, semuanya bener-bener bebas ditampilkan di layar kaca, tanpa ada proses empowerment dari segi apapun buat para anggota keluarga muda.

 

Orang tua dan guru sepertinya harus menerima, ikhlas atau tidak ikhlas, keberadaan budaya pertelevisian kita yang makin merajalela. Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah para pekerja industri televisi. Namun yang bisa kita ubah adalah proses berpikir anak-anak kita. Dari melihat TV sebagai guru, menjadi -setidak-tidaknya- hanya teman bermain yang bisa ditemani atau dijauhi.

Prosesnya tidak mudah, tentu tidak mudah. Konsep melek media memang tidak pernah bisa dilaksanakan secara instan. Butuh waktu, juga butuh tangan dan pemikiran dari banyak pihak, dan yang paling dekat dengan kehidupan si anak tentunya orang tua dan guru. Yang paling menginginkan masa depan cerah si anak adalah tentu orang tua dan guru. Pemerintah bisa membantu dengan kebijakan-kebijakan (yang pasti lama dielaborasikan dan dipraktekkan), namun orang tua dan guru bisa dengan cepat mempraktekkan pembekalan melek media kepada anak.

 

Lalu sekarang, bagaimana kita bisa memperlengkapi diri kita? Apa yang harus kita ajarkan? Mungkin kita bisa mulai dengan mengenal lebih dekat arti dari melek media. Agak berbeda terjemahannya dalam bahasa Inggris; media literacy atau media awareness.

Menurut Jane Tallim, seorang Education Specialist di Ontario, USA, media literacy adalah:

‘The ability to sift through and analyze the messages that inform, entertain and sell to us every day. It’s the ability to bring critical thinking skills to bear on all media— from music videos and Web environments to product placement in films and virtual displays on NHL hockey boards. It’s about asking pertinent questions about what’s there, and noticing what’s not there. And it’s the instinct to question what lies behind media productions— the motives, the money, the values and the ownership— and to be aware of how these factors influence content.’

Dan dari titik ini kita bisa menggali sebanyak-banyaknya perihal topik ini dari buku dan surat kabar, dan tentunya internet. Ada banyak sekali institusi dan individu-individu yang peduli akan hal ini, khususnya. Sayangnya perkembangan prakteknya hanya dilakukan oleh negara maju. Mungkin pajak mereka yang besar membuat dukungan finansial terhadap proyek-proyek pengembangan media literacy ini lebih lancar.

 

Bagaimana dengan kita? Jangan patah semangat! Masih dengan konsep ‘mulai dari diri sendiri’, kita bisa melakukan perubahan. Pembicaraan dari mulut ke mulut akan lebih besar dampaknya dari pada iklan yang menggebu-gebu. Dan kita bisa melakukan sesuatu, setdaknya di keluarga kita dulu, ya kan?

 

Sekedar omong-omong nih, pihak televisi itu selalu mempelajari bagaimana kita menyikapi program yang mereka sajikan, loh. Tapi tidak lantas mereka melakukan produksi program yang menguntungkan kita, melainkan perkembangan rating lah yang mereka utamakan. Mendidik atau tidak mendidik itu urusan belakangan. Celah dan hal apa yang kira-kira bisa digenggam dan dikuasai dari masyarakat sehingga bisa menghasilkan keuntungan rating, itu lah yang dimaksimalkan. Wah, agak seram juga ya? Well, mungkin seram, kalau kita memang bergantung pada televisi (yang percaya tidak percaya, ya, kita bergantung pada televisi most of time). Bayangkan bagaimana seramnya hal ini bagi adik dan anak-anak kita?

 

Industri televisi akan tetap berkembang. Mereka tetap akan ‘melayani kebutuhan’ pemirsa. Mereka tetap mempelajari pemirsanya. Kita bisa melakukan hal yang sama pada para stasiun-stasiun televisi itu. Kita bisa mengembangkan diri dengan pengetahuan media literacy kita. Kita bisa mempelajari seluk-beluk media elektronik ini (pertanyaan paling pas ttg apapun adalah 5W+1H, mari terapkan untuk mengamati TV). Dan pada akhirnya, kita bisa memanfaatkan televisi untuk kepentingan KITA. KITA  yang pegang kendali. Kita bisa mengkritiknya, kita bisa mematikannya, kita bisa mengadukannya, kita bisa mengambil sisi-sisi positifnya untuk keuntungan kita, dan kita bisa menularkan sikap kita ini ke teman-teman dan adik serta anak-anak kita. Menjadi kritis, dan menjadi pemirsa yang gemar membaca televisi. 

Brisbane, 18 Desember 2008

 

*Penulis juga ‘mencurahkan’ pemikirannya -yang belum seberapa ini- ke dalam sebuah website (untuk melihat, klik disini). Website sederhana (self-made loh!) mengenai Melek Media, yang dengan harapan tinggi, dimaksudkan untuk dapat lebih mensosialisasikan konsep tersebut ke dalam kehidupan real kita. Apabila Anda berminat mendukung proses sosialisasi ini (khususnya lewat website bersangkutan), dengan senang hati saya menerima peran serta dan bantuan Anda. Seperti sorakan para penonton bulu tangkis ketika timnas kita bertanding: AYOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO..KAMU BISAAAAAAAAAA!, itu juga lah yang saya katakan kepada Anda sekarang. Anda Bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s