Hari ini bebrapa kali kepikiran tentang ngambil gambar pake kamera.. Seringkali saya sebel kalo nge-record sesuatu tapi kok kayanya ga HD gitu.. Angle yang keambil cuma arah pandang depan. Kanan-kiri ga keliatan. Dan ini seringkali mengganggu kalo ada pemandangan indah kaya scenery gitu, eh..yang keambil dalam satu frame cuma se-uprit doang. Mau ga mau harus nge-pan kamera.
Kalo kejadiannya lagi shooting Griya Unik*, wuah, rugi berat kalo ga bawa wide lens* (plus kamera yang compatible tentunya, which yang biasa dipake di Griya Unik adalah Sony DSR 400). Kenapa eh kenapa, karena kalo ngeliput rumah orang pake standard lens, serba salah, e-do-do-e.. Mau ambil seluruh ruangan kok ya ga dapet. Kalo mau mundur kok ya mentok dinding. Mundur ke tempat yang lebih lega kok ya ga bagus angle-nya. Nge-pan ga mungkin, nge-tilt ga bagus. Udah deh, pasti jadinya minta gambar ma mas/mba campers* sebanyak-banyaknya.. Biar stock gambar lebih banyak en dinamis nanti di proses editing..
Kembali ke saat-saat sekarang ini. Sepanjang satu semester ini saya dan teman-teman kampus akan sangat bergantung sama kamera yang ga standar broadcast, ga kaya jaman kejayaan di TransTV.. Kita pake handycam gitu, JVC something.. Dan kembali lah saya berpikir sebagai pengambil gambar, bukan penganalisis gambar lagi (hueheheee.. i love u mba dan mas campers tersayaaang..susah kali nya mengikuti jejak kesuksesan kalian..) Jadi bener-bener berhadapan, literally, dengan kamera dan menjaga supaya gambar ga miring, waterpass-ing (kah?), menjaga tangan tetep steady, sabar untuk melakukan gerakan (karena kalo spontan2 aja, selalu deh nge-pan-nya kecepetan.. ) Dan juga yang terakhir ya itu, permasalahan standard angle 46 derajat yang seringkali ga cukup meng-cover kebutuhan..

lensa standarnya sebuah laptop.. Untuk meng-capture suatu full shot harus dari jauh, minimal 1 meter dari objek
Di hari yang cerah ini saya coba untuk ngerenungin lagi.. Apa ya yang bikin wide angle such a special concept.. Tadi di bus saya menyadari konsepnya.. Wide angle membuat kita, regardless we’re close to the object, kita tetep bisa mendapat keuntungan seperti apabila kita berada jauh dari objek. Yang biasanya cuma bisa ngeliat lutut ke bawah, misalnya.. dengan konsep wide angle bisa jadi melihat keseluruhan objek, dari tumit sampai kepala (dengan angle yang dikoreksi tentunya), kaya gambar yang satu ini.
Dan konsep ini saya gabungkan dengan sedikit pengalaman saya sebulan terakhir ini, juga hasil wawancara saya dengan beberapa teman, dan pelajaran jurnalisme juga sebenarnya, dan hasilnya adalah simple. Kita akan lebih dewasa melihat segala sesuatu ketika kita merasakan apa dan bagaimana menjadi out of the box. Dan kalau udah out of the box, dan kembali lagi in to the box.. kita memiliki hadiah baruu.. si lensa lebar a.k.a wide lens.. Kita dekat dengan dunia kita sendiri, tapi jauh lebih luas cara melihatnya. Secara fisik seperti dekat, tapi matanya tetap bisa capture the whole picture. Kita bisa melihat suatu hal dengan mencoba membuatnya terlihat jelas, bukannya hal itu malah membuat pandangan kita terhalang.
Itulah juga yang intens juga *sekalian share* saya dan teman-teman pelajari di International Journalism class.. Kami disadarkan bahwa ketika kita bilang kita tahu tentang sesuatu sebenarnya saat itu kita belumlah tau tentang si sesuatu itu. Misalnya, kita berteman akrab denan sifat men-stereotyping.. Biasanya kalo selalu terkungkung sama si stereotype itu, sebenarnya kita cuma tahu dikit. Kita bilang kita tau, padahal kita sama sekali ga tau. Kita kira kita dah tau tentang pantai terindah karena ngeliat pantai no.10. Padahal ada 10 pangkat 10ribu pantai indah yang belum pernah kita lihat di luar sana. Emang kenapa kalau ga tau si ratusan ribu pantai itu? Salah? Ya ngga… Tapi kadang prasangka bahwa kita tau itu lah yang bikin alur berpikir kita kurang mendekati sifat-nya wide lens..
Ah.. Si wide lens.. Semoga, in time, saya bisa punya lensa kaya gitu, mahal banget harganya.. But still..worthwhile. Bisa mempercantik gambar dan malah memberi cita rasa seni dengan ‘distorsi’ yang ditampilkannya. Nah kalau mau shooting Griya Unik atau bahkan Cribs kan jadi bisa leluasa, efektif dan efisien. Dalam rangka menciptakan rating terbaik
, iya ga?
*Wide Lens: Retina sebuah kamera. Sudut pengambilan gambarnya berkisar di antara 62 sampai 100 derajat. (bandingkan dengan lensa standar = 46 derajat)
*Griya Unik: Sebuah program yang melihat lebih dekat konsep unik rumah-rumah di Indonesia, tayang tiap Minggu pukul 10.30 WIB di TransTV.
*Campers: Singkatan dari Cameraperson; Penata kamera; Cameraman. Sebutan ini sangat common di TransTV in particular. Dibaca: kempers.
*Focal length: Panjang lensa; sudut yang bisa dijangkau oleh suatu lensa. Biasa dicantumkan di lensa kamera atau bahkan lensa-nya telepon selular. Semakin kecil angkanya, semakin luas ia menangkap gambar. Biasanya yang masuk dalam ukuran ‘wide‘ adalah lensa dengan panjang fokal 35mm atau di bawahnya. Misal: 28-105mm –> berarti posisi panjang lensa 28mm adalah frame terlebar yang dihasilkan si kamera (tanpa menge-zoom sama sekali) dan 105mm–> posisi lensa menjangkau jauh (zoom in) semaksimal mungkin.
*credits 4 the picture-resource (linked) dan..saya menerima kritikan dan masukan tentang artikel ini.. Apalagi tentang technical matter-nya..saya sadar pengetahuan saya masih compang-camping. cheers.*






0 Responses to “[shooting dan] wide lens”